ARTICLE SOBAT POLRI

Trotoar Masa Kini

Pengguna Kendaraan Bermotor Yang Melaju Di Atas Trotoar

Di kota-kota besar yang mulai padat penduduk tentunya semakin padat juga pengguna jalan, baik itu yang berkendara atau berjalan kaki. Bagi pejalan kaki, ada fasilitas berjalan di pinggir jalan berupa trotoar, dan untuk menyeberang jalan tersedia zebra cross ataupun jembatan penyeberangan umum.

Namun kenyataan di lapangan, terkadang kenyamanan pejalan kaki akhirnya terganggu baik karena adanya pot tanaman besar, pedagang kaki lima, bahkan kendaraan bermotor yang lalu lalang ataupun parkir di trotoar.

Apa Itu Trotoar?

Kata “trotoar” berasal dari bahasa Prancis, trottroir. Di Amerika Serikat dikenal dengan istilah sidewalk dan di Inggris pavement. Pengertian dan batasan tentang trotoar berdasar Petunjuk Perencanaan Trotoar Nomor 007/T/BNKT/1990 yang dikeluarkan Direktorat Pembinaan Jalan Kota Subdirektorat Jenderal Bina Marga adalah jalur pejalan kaki di daerah manfaat jalan, diberi lapis permukaan, diberi elevasi lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan, dan umumnya sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan.

Menurut keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No.76/KPTS/Db/1999 tanggal 20 Desember 1999 yang dimaksud dengan trotoar adalah bagian dari jalan raya yang khusus disediakan untuk pejalan kaki yang terletak didaerah manfaat jalan, yang diberi lapisan permukaan dengan elevasi yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan, dan pada umumnya sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan.

Salah satu tujuan utama dari manajemen lalu lintas adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar.

Undang-Undang Yang Mengatur Hak Pejalan Kaki

Pada Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2006 tentang Jalan. Berdasarkan pasar 34 ayat 4 disebutkan, trotoar, hanya diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan kaki.

Di dalam Undang-Undang no 22 tahun 2009. Ada hak pejalan kaki dan pengguna kendaraan wajib mengutamakan pejalan kaki. Pada pasal 131 diatur bahwa pejalan kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan dan fasilitas lain. Ancaman sanksi bagi pelanggar atau menggunakan trotoar sebagaimana mestinya antara lain diatur di pasal 274 ayat 2 dimana setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi kelengkapan jalan dipidana dengan penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta.

Kemudian pada pasal 275 ayat 1, setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, fasilitas pejalan kaki dan alat pengaman pengguna jalan, dipidana dengan kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000. Untuk yang melakukan perusakan, pada ayat 2 dapat dipidana dengan kurungan paling lama dua tahun dan denda paling banyak Rp 50 juta.

Permasalahan Seputar Trotoar

Trotoar Digunakan Sebagai Tempat Parkir

Di Balikpapan, trotoar saat ini sebagian dihiasi dengan pot besar serta ada juga bola raksasa yang menjadi alternatif penghias trotoar. Namun tetap saja ditemui adanya kendaraan yang parkir bahkan menggunakan trotoar untuk laju kendaraannya agar terhindar dari kemacetan atau bisa dengan cepat melewati lampu merah.

Beberapa trotoar juga dilengkapi dengan lubang sebagai jalannya aliran air jika terjadi hujan. Kembali lagi ada ulah oknum yang dengan sengaja mengambil besi pelindung lubang demi keuntungan pribadi sehingga yang terjadi lubang menganga dan justru membahayakan pejalan kaki.

Pemerintah daerah juga memiliki kewajiban menyediakan trotoar yang layak untuk pejalan kaki dan untuk penyandang disabilitas. Sejatinya trotoar bisa menjadi sarana pengurang kemacetan jika nyaman bagi pengguna. Jika keamanan dan nyaman dirasakan oleh pengguna trotoar, tentunya masyarakat akan memilih untuk menggunakan transportasi umum ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini sudah pasti bisa mengurangi kemacetan lalu lintas.

Tentunya permasalahan trotoar bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan aparat terkait. Masyarakat sebagai pengguna jalan juga sudah sepatutnya kembali memfungsikan trotoar sebagaimana mestinya. Perilaku berkendara serta perilaku pejalan kaki sudah seharusnya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Minim Sanksi

Sebenarnya penggunaan trotoar sudah diatur oleh undang-undang dan bagi yang melanggar tentunya ada sanksi hukumnya. Di Balikpapan misalnya, di daerah simpang lima Muara Rapak, sering terlihat pengendara motor menggunakan trotoar demi mempercepat melalui lampu merah. Pengendara dari Karang Anyar, yang terjebak macet berusaha melintas trotoar. Belum ada tindakan tegas bagi pengendara motor yang melintasi trotoar.

Begitu juga dengan trotoar yang ada di lampu merah Damai Balikpapan. Sebenarnya pihak Polisi Lalu Lintas sudah sering melakukan peneguran kepada pengguna jalan agar pengendara tidak menggunakan trotoar. Namun tanpa adanya sanksi hukum yang berlaku tentunya tidak akan ada efek jera. Teguran lisan saja hanya masuk kuping kiri keluar kanan. Jika ada petugas saja tertib, jika tidak ada petugas, kembali lagi ditemui pelanggaran.

Pihak Satpol PP dan Dishub Kota Balikpapan juga sudah sering melakukan razia terhadap kendaraan yang parkir di atas trotoar, tapi tetap saja efek jera belum dirasakan masyarakat yang masih saja memarkir kendaraan di atas trotoar. Mungkin besaran sanksi harus dimaksimalkan serta penjagaan rutin perlu dilakukan agar masyarakat kembali sadar bahwa trotoar adalah hak pejalan kaki.

Kembalikan Fungsi Trotoar

Lubang Menganga Di Atas Trotoar

Trotoar sebagai hak pejalan kaki sudah semestinya kembali ke fungsi sebenarnya. Aktifitas yang dilakukan di atas trotoar sudah seharusnya hanya untuk pejalan kaki, bukan untuk lalu lalang kendaraan bermotor, parkir kendaraan, bongkar muat barang, atau pun untuk berjualan.

Pejalan kaki sudah sepantasnya merasa aman berjalan di atas trotoar, bukan dengan rasa was-was takut tertabrak kendaraan yang lalu lalang. Cekcok mulut antara pejalan kaki dengan pengguna kendaraan bermotor yang melintasi trotoar sudah semestinya tidak terjadi lagi.

Butuh kesadaran tinggi dari masyarakat pengguna jalan. Butuh peran aktif dari petugas yang terkait. Tentunya butuh penanganan lebih serius agar permasalahan ini tidak seolah-olah sebagai pembiaran. ***

*** Achmad Faizal, Pegiat Media Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *