ARTICLE SOBAT POLRI

Masihkah Amankah Menyeberang Jalan?

Pejalan kaki saat ini tentunya semakin merasa tidak aman dijalanan. Mengapa? Padatnya kendaraan yang melintas disertai perilaku pengendara yang terkadang membahayakan pejalan kaki. Fasilitas pejalan kaki juga dirasakan sangat minim terutama di kota-kota besar.

Trotoar yang minim, serta zebra cross dan jembatan penyeberangan orang seolah tidak mendapat perhatian dari pemerintah kota setempat. Banyak zebra cross yang sudah mulai pudar catnya sehingga membuat seolah tidak ada akses aman bagi pejalan kaki untuk menyeberang.

Apa itu Zebra Cross?

Zebra cross adalah tempat penyeberangan di jalan yang diperuntukkan untuk pejalan kaki yang akan menyeberang jalan, dinyatakan dengan marka jalan berbentuk garis membujur berwarna putih dan hitam yang tebal garisnya 300 mm dan dengan celah yang sama dan panjang sekurang-kurangnya 2500 mm, menjelang zebra cross masih ditambah lagi dengan larangan parkir agar pejalan kaki yang akan menyeberang dapat terlihat oleh pengemudi kendaraan di jalan. Pejalan kaki yang berjalan di atas zebra cross mendapatkan perioritas terlebih dahulu.

Disebut sebagai zebra cross karena menggunakan warna hitam dan putih seperti warna pada hewan zebra dari kelompok hewan kuda yang hidup di Afrika (wikipedia).

Undang-Undang Tentang Zebra Cross

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pada pasal 45 ayat 1 disebutkan fasilitas pendukung penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, meliputi huruf (c) tempat penyeberangan Pejalan Kaki. Dijelaskan huruf c yang dimaksud adalah “tempat penyeberangan” dapat berupa zebra cross dan penyeberangan yang berupa jembatan atau terowongan.

Isi dari Pasal 131:
(1) Pejalan kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain.
(2) Pejalan kaki berhak mendapatkan prioritas pada saat menyeberang Jalan di tempat penyeberangan.
(3) Dalam hal belum tersedia fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejalan kaki berhak menyeberang di tempat yang dipilih dengan memperhatikan keselamatan dirinya

Pada pasal 105 dalam UU tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan itu menyebutkan, setiap orang yang menggunakan Jalan wajib:
a. berperilaku tertib; dan/atau,
b. mencegah hal-hal yang dapat merintangi, membahayakan Keamanan dan Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, atau yang dapat menimbulkan kerusakan Jalan.

Dalam pasal 106 disebutkan:
(1) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.
(2) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki dan pesepeda.

Toleransi Pengguna Jalan Makin Minim

Ketika seseorang sudah berkendara di Jalan, tentunya ingin cepat sampai di tujuan. Adanya zebra cross sebagai sarana penyeberangan jalan bagi pejalan kaki, terkadang tidak dihiraukan oleh pengendara kendaraan bermotor. Pejalan kaki akhirnya merasakan ketidak nyamanan serta tidak aman jika ingin menyeberang jalan, meskipun sudah menggunakan zebra cross.

Sebenarnya sudah seharusnya pengendara berhenti jika ada pejalan kaki menyeberang di zebra cross. Hak bagi pejalan kaki untuk berjalan dengan aman harus dihormati. Sejatinya yang harus dilakukan pengendara adalah memperlambat laju kendaraan saat melihat zebra cross di depan, meski tidak terlihat ada orang menyeberang. Pengendara harus mengatur laju kendaraan sedemikian rupa sehingga siap berhenti di sisi zebra cross tanpa menimbulkan bahaya bila diperlukan. Bila ada orang menyeberang, maka pengendara harus berhenti, sampai orang itu menyeberang dengan selamat.

Saat ini yang terjadi ialah tak jarang pengendara justru membunyikan klakson, seolah menyuruh pejalan kaki untuk mempercepat jalan saat menyeberang agar mereka yang di atas kendaraan tidak perlu berhenti. Penyeberang jalan dianggap sebagai penghalang bagi mereka pengendara yang melaju di jalan. Tak jarang malah pengendara berteriak kepada pejalan kaki yang tidak mempercepat jalan mereka.

Zebra cross yang ditempatkan di lampu merah juga lebih banyak diisi oleh kendaraan bermotor, seolah mereka tidak melihat adanya garis putih di atas aspal.

Di sisi lain, banyak juga pejalan kaki yang malas menggunakan zebra cross dan menyeberang di sembarang tempat. Apalagi jika harus menaiki jembatan penyeberangan orang yang notabene dibuat untuk kepentingan dan keamanan pejalan kaki. Pejalan kaki lebih memilih menantang bahaya menyeberang di bawah, ketimbang harus naik ke jembatan penyeberangan orang.

Belum lagi dengan fasilitas zebra cross yang minim perawatan. Banyak kita temui cat dari zebra cross yang sudah pudar, bahkan tak jarang sudah tidak terlihat lagi. Peran pengawasan dan perawatan dari pemerintah daerah serta dinas terkait setempat terasa minim.

Hal seperti ini seolah sudah menjadi hal yang biasa dan wajar terjadi. Pembiaran dilakukan oleh masyarakat sendiri. Padahal di sini ada hak yang sedang ditindas, yaitu hak kenyamanan dan keamanan pejalan kaki.

Rendahnya kesadaran hukum pengendara kendaraan baik roda dua maupun roda Empat yang menggunakan jalan raya mengakibatkan sering terjadinya kecelakaan lalulintas. Ditambah dengan masih minimnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi rambu-rambu lalulintas.

Perlu adanya sanksi tegas bagi pelangar serta para penegak hukum dan instansi terkait harus sering mensosialisasikan mengenai hal ini, agar bisa mengurangi kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki. Di depan sekolah yang ramai siswa, perlu diawasi setiap hari agar para siswa yang menyeberang jalan terutama saat jam masuk dan pulang sekolah aman menyeberang jalan. ***

*** Achmad Faizal, Pegiat Media Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *