ARTICLE SOBAT POLRI

Dunia Polisi Dalam Layar Lebar

Nopember 2019 ada dua film bertemakan kepolisian yang tayang di bioskop, yaitu Film Hanya Manusia dan Film Sang Prawira. Divisi Humas Polri menyasar generasi milenial yang hobi nonton untuk lebih memasyarakatkan dunia kepolisian melalui film. Tidak bisa dipungkiri bahwa generasi sekarang lebih suka melihat secara visual dalam bentuk video ketimbang membaca teks saja. Hal ini bisa kita lihat dari menjamurnya youtuber (sebutan untuk konten kreator yang menggunakan youtube).

Film Hanya Manusia

Film Hanya Manusia disutradarai oleh Tepan Kobain dan diperankan oleh sejumlah aktor berbakat Indonesia seperti Prisia Nasution, Yama Carlos, dan Lian Firman. Film garapan Divisi Humas Polri menceritakan tentang sisi humanis dari seorang polisi bernama Annisa, di mana ia yang berprofesi sebagai Polisi harus bisa membagi antara urusan kerjaan dengan keluarga, layaknya manusia pada umumnya.

Menonjolkan sisi humanis seorang polisi yang juga memiliki kehidupan di luar dunia kepolisian, kegamangan antara tuntutan profesi dengan kehidupan pribadi. Annisa mencoba memecahkan kasus penculikan yang diduga terkait dengan perdagangan manusia. Dalam proses penyidikan kasus, Annisa dihadapkan dengan permasalahan kompleks ketika adinya ikut menjadi korban penculikan. Disinilah bisa terlihat bagaimana seorang polisi yang juga hanya manusia, yang juga memiliki permasalahan pribadi namun tetap harus bisa profesional dalam menjalankan tugas.

Film Sang Prawira

Dalam film ini terlibat sejumlah perwira polisi dan pejabat yang ikut berperan. Para pemain film ini di antaranya, Ipda Aditia ACP, Anggika Bolsterli, Ipda Dimas Adit S, Ipda M. Fauzan Yonanndi, Tito Karnavian, Luhut Binsar Pandjaitan, Yassonnah H. Laoly, Ganjar Pranowo, Irjen Dr. Eko Indra H S, Irjen Agus A, Mayjend. TNI M. Sabrar F, dan Tito Karnavian.

Sang Prawira merupakan film hasil kerja bareng MRG Films dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Polda Sumatera Utara. Menceritakan tentang kisah perjalanan seorang pemuda miskin bernama Horas yang menjadi perwira polisi.

Horas berasal keluarga tak mampu. Ayahnya ingin ia menjadi seorang pengusaha. Namun Horas yang berkeinginan kuat membanggakan keluarganya sekaligus bangkit dari keterpurukan ekonomi memilih untuk menjadi polisi. Untuk mewujudkan cita-citanya itu, ia mendaftar ke Akademi Kepolisian atau Akpol di Semarang, Jawa Tengah. Mimpi menjadi seorang polisi akhirnya terwujud. Horas berhasil menjadi seorang polisi. Pemuda tampan ini mampu membanggakan dan mengangkat derajat keluarganya. Namun dibalik kesuksesannya itu, ia harus menghadapi ragam cobaan mulai dari kehilangan orang tua, kekasih hingga sahabat.

Ipda Dimas Adit Sutono sebagai pemeran Horas harus bisa berakting prima. Sosok yang kesehariannya terbiasa disiplin dan tegas, harus memerankan sisi polisi yang agak melankolis karena percintaan. Bahkan di scene ketika Horas harus menangis, Ipda Dimas sempat kurang maksimal karena memang pada dasarnya ia bukan seorang aktor.

Film Sebagai Sarana Komunikasi Dengan Masyarakat

Terobosan Mabes Polri dalam menggunakan media layar lebar untuk menyampaikan pesan-pesan kepolisian terus dilakukan. Mabes Polri berupaya melibatkan konten kreatif dalam rangka membangun komunikasi dengan masyarakat. Pembuatan film layar lebar, bekerja sama dengan rumah produksi, dan melibatkan sejumlah aktor serta aktris ternama dilakukan guna lebih mendekatkan dunia kepolisian kepada generasi saat ini.

Polisi di mata masyarakat adalah sosok berseragam yang membawa senjata dan memerangi kejahatan. Tak jarang persepsi negatif tentang kekasaran atau kearoganan polisi muncul di masyarakat. Melalui film, Divisi Humas Polri mulai mencoba menghapus image sangar dan arogan dari seorang polisi.

Melalui layar lebar, pelan-pelan ditanamkan pengenalan dunia kepolisian, dan diharapkan bisa membuka mata masyarakat mengenai bagaimana keseharian dari polisi melalui kemasan film yang dibumbui drama dan komedi. Diharapkan kepercayaan masyarakat kepada polisi juga bisa meningkat setelah mengenal bagaimana dunia kepolisian. Di mana polisi juga hanya manusia biasa yang juga punya kehidupan dan permasalahan pribadi, namun dituntut profesional menjalankan tugas sebagai abdi negara, pengayom masyarakat.

Penonjolan sisi humanis seorang polisi diharapkan bisa merubah pandangan masyarakat tentang kesangaran seorang polisi, sehingga diharapkan masyarakat bisa menjadikan polisi sebagai sahabat. Polisi saat ini memang harus lebih dekat, lebih humanis, dan lebih membaur dengan masyarakat. Meski bersenjata, namun tetap harus bisa menangani permasalahan dengan sisi humanis.

Ketika masyarakat sudah mulai berempati kepada polisi, tentunya penyampaian pesan-pesan kepolisian akan lebih mudah masuk dan diterima oleh masyarakat. Pelanggaran–pelanggaran hukum diharapkan akan menurun dan diharapkan masyarakat lebih aktif berkomunikasi dengan polisi seputar keamanan lingkungan tempat tinggal mereka. ***

*** Achmad Faizal, Pegiat Media Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *