ARTICLE SOBAT POLRI

Polda Kaltim Semakin Dekat Dengan Masyarakat

Di era saat ini Polri dituntut untuk lebih humanis. Kesan garang, sangar, dan ditakuti harus berganti dengan sosok yang humanis namun tetap profesional. Beragam cara dilakukan oleh Polda Kaltim dan jajarannya untuk bisa lebih dekat dengan masyarakat.

Seluruh komponen yang ada di kepolisian harus bisa menjadi lebih humanis. Mau tidak mau, suka tidak suka, segenap anggota Polri harus berubah agar bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Dimulai dengan senyum ramah, membantu masyarakat tanpa pamrih, tentunya bisa menjadi cara agar Polisi lebih menjadi humanis.

Definisi Humanis

Humanis, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, orang yang mendambakan dan memperjuangkan pergaulan hidup yang lebih baik berdasarkan asas kemanusiaan, pengabdian kepentingan sesama umat manusia. Sedangkan, definisi kedua adalah penganut paham yang menganggap manusia sebagai objek terpenting.

Mengacu pada makna di atas, Polri telah memproklamirkan sebagai polisi humanis, Polri mendambakan pergaulan yang lebih baik dari sebelumnya dan sekarang sedang dalam memperjuangkan untuk mencapai cita-cita tersebut. Menjadi lebih ramah, lebih baik, ketika berhadapan dengan masyarakat.

Dikaitkan dengan makna menempatkan manusia sebagai objek terpenting, makna ini merupakan wujud menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, dalam hal ini anggota masyarakat,sehingga setiap tindakan mempunyai konsekuensi berorientasi kepentingan masyarakat.

Pola Pikir Polisi Selalu Melakukan Tindak Kekerasan

Tidak bisa kita pungkiri, ketika bersentuhan dengan pelaku kriminal, atau dengan massa yang banyak, Polisi akan berhadapan dengan potensi pelanggaran HAM. Tindakan yang dilakukan berupa upaya paksa saat penggeledahan, penangkapan, atau pembubaran massa, salah sedikit saja bisa dipelintir menjadi stigma negatif kepolisan sebagai pelanggar HAM.

Menjadi humanis bukan berarti membatasi gerak Polisi dalam melakukan penumpasan terhadap pelaku kriminalitas. Namun lebih kepada pengendalian diri dan tetap memandang tersangka pelaku kejahatan sebagai sosok manusia yang juga perlu dilindungi.

Bagaimanapun perlu dilakukan perubahan besar pola pikir anggota polri, terutama yang bertugas di lapangan, untuk lebih memanusiakan para pelanggar hukum, namun tetap profesional menumpas pelaku kriminal yang meresahkan masyarakat. Masyarakat tentunya mendambakan sosok Polisi yang lebih manusiawi dalam bekerja, tidak selalu keras dan represif. Mengedepankan sikap-sikap budaya yang sopan, santun, ramah, tidak kasar, dan persuasif. Polisi harus bisa mengayomi dan memberi rasa aman kepada masyarakat.

Interaksi Dengan Masyarakat

Dok Humas Polda Kaltim

Paradigma baru yang sedang dikembangkan Polri saat ini berorientasi kepada pemecahan masalah-masalah masyarakat (problem solver oriented), dengan berbasis pada potensi-potensi sumber daya lokal dan kedekatan dengan masyarakat yang lebih manusiawi (humanistic approach). Dengan paradigma baru ini diharapkan lahirnya polisi sipil yang humanis.

Untuk mewujudkannya Polisi harus selalu dekat dengan masyarakat, berbaur dan berinteraksi dengan masyarakat. Interaksi yang terus menerus dilakukan Polisi makin bisa bersama-sama dengan masyarakat mencari jalan keluar atau menyelesaikan masalah sosial, terutama masalah keamanan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya interaksi yang terus menerus maka Polisi akan bisa senantiasa berupaya untuk mengurangi rasa ketakutan masyarakat terhadap akan adanya gangguan kriminalitas.

Adanya rasa aman di masyarakat dengan hadirnya Polisi di tengah-tengah mereka tentunya menjadi target kepolisian. Hadirnya Polisi bukan untuk ditakuti apalagi menjadi musuh bagi masyarakat. Jika Polisi bisa diterima masyakarat, sudah tentu penyampaian program kepolisian akan lebih mudah disampaikan. Pelanggaran-pelanggaran hukum secara otomatis akan berkurang.

Memang masih kita temui adanya oknum-oknum Polisi yang masih melakukan pelanggaran. Tentunya pihak kepolisian tidak tinggal diam. Proses pendisiplinan anggota yang melanggar dilakukan oleh Kepolisian. Bahkan, Mabes Polri juga menerjunkan sejumlah perwira menengah ke berbagai daerah untuk mengakomodasi keluhan masyarakat terkait kinerja kepolisian.

Binrohtal Wadah Untuk Membentuk Karakter Angggota Polri 

Dok Humas Polda Kaltim

Salah satu cara yang dilakukan oleh pihak kepolisian dalam membentuk karakter dan mental anggotanya ialah dengan rutin melakukan Pembinaan Rohani dan Mental (Binrohtal). Selain demi lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, SWT, binrohtal juga bisa menjadi wadah untuk membentuk karakter angggota Polri. Siraman rohani serta moral bagi anggota Polri diyakini bisa membentuk sikap mental Polisi yang lebih bertanggung jawab, santun, dan bijaksana.

Untuk menjadi polisi sipil yang humanis ada tiga hal yang patut dilakukan oleh anggota polisi secara rutin, terus menerus, dan konsisten. Yaitu selalu bersikap empati, mau melayani sesama, dan selalu mampu mengendalikan emosi. Dalam situasi apapun dan dengan latar belakang apa pun seorang anggota polisi harus mampu berprilaku simpati, sehingga masyarakat selalu bisa merasa nyaman berada di dekatnya. Dengan adanya sikap simpati yang diberikan anggota polisi tersebut masyarakat akan merasakan bahwa polisi tersebut sesungguhnya sudah memberikan rasa empati kepada mereka. Empati berarti seorang polisi menempatkan dirinya pada posisi masyarakat. Dengan demikian, polisi itu bukan hanya memahami kebutuhan dan keinginan masyarakat tersebut, lebih dari itu ia mengenal lebih detil lagi tipe-tipe masyarakat yang berbeda, yang berada di wilayah tugasnya. Melalui binrohtal diharapkan bisa lebih memupuk rasa empati anggota Kepolisian.

Sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat masing-masing anggota kepolisian dituntut harus mampu mengendalikan emosinya, dalam situasi apapun. Jika tidak filosofis pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang diagung-agungkan Polri hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Dalam nilai-nilai polisi sipil yang humanis, munculnya emosi negatif yang meledak-ledak di banyak kasus yang melibatkan anggota Polri adalah sebuah peringatan bahwa jajaran kepolisian agar segera mengubah persepsi (cara memandang) dan prosedur, tindakan maupun prilakunya. ***

*** Achmad Faizal, Pegiat Media Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *