ARTICLE SOBAT POLRI

Generasi Milenial Tanpa Narkoba

Tak bisa kita pungkiri, Narkotika dan Obat-Obatan Terlarang atau NARKOBA masih menjadi salah satu musuh yang seakan tidak ada habisnya. Beragam cara dilakukan oleh oknum pengeruk keuntungan memasukkan dan memasarkan narkoba ke masyarakat.

Narkoba Dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Narkoba dapat memecah belah otak kita, sehingga membuat kita mengarah pada keinginan kuat dan penggunaan obat kompulsif. Seiring waktu, perilaku ini dapat berubah menjadi ketergantungan zat, atau kecanduan narkoba. Satu dari empat kematian disebabkan oleh penggunaan obat terlarang.

Lebih banyak kematian, penyakit, dan kecacatan yang dikaitkan dengan penyalahgunaan narkoba daripada kondisi kesehatan lain yang dapat dicegah. Orang yang menderita kecanduan narkoba dan alkohol juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami cedera yang tidak disengaja.

Sistem kekebalan yang melemah, meningkatkan risiko penyakit dan infeksi. Kondisi jantung mulai dari detak jantung yang tidak normal hingga serangan jantung dan pembuluh darah yang jatuh dan infeksi pembuluh darah dari obat yang disuntikkan. Mual dan sakit perut, yang juga bisa menyebabkan perubahan nafsu makan dan penurunan berat badan.

Mengapa Orang Menggunakan Narkoba?

Faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab maraknya pengguna narkoba di masyarakat. Ketika bergaul dalam lingkungan yang terdapat narkoba, sebagian orang akan menggunakan narkoba demi diterima dalam pergaulan dilingkungannya.

Awalnya hanya coba-coba, namun akhirnya tidak mampu meredam ketergantungan dan akhirnya menjadi pecandu. Banyak orang menggunakan sabu dengan alasan agar lebih “kuat” dalam berativitas. Sabu dianggap mereka bisa menambah energi, sehingga dalam bekerja bisa lebih kuat.

Ada juga yang menggunakan narkoba dengan alasan pelarian dari ruwetnya permasalahan hidup yang sedang mereka alami. Mereka mengira narkoba adalah jalan keluar dari masalah. Padahal dengan mengkonsumsi narkoba, justru mereka malah menambah masalah, selain masalah kesehatan, masalah keuangan, juga masalah hukum.

Dari kaya bisa menjadi miskin dan dari miskin juga bisa mendadak kaya karena narkoba. Hal inilah yang mungkin memacu para kurir dan pengedar narkoba. Kesulitan ekonomi membuat mereka mengambil jalan pintas. Dengan iming-iming imbalan yang besar jika mereka berhasil menjual atau mengantarkan paket narkoba. Sementara bagi pengguna, karena ketergantungan, harta benda bisa sekejap habis demi bisa memuaskan tubuh menikmati narkoba. Setelah harta habis, utang sana sini, dan akhirnya mencuri.

Narkoba tidak hanya menyasar kalangan berada, kalangan artis atau pejabat saja. Siapa pun bisa memiliki peluang terpapar narkoba. Pelajar, ibu rumah tangga, aparatur sipil negara maupun masyarakat umum lainnya.

Generasi millenial yang aktif menggunakan narkoba karena efek sebagai stimulan atau meningkatkan energi. Para pekerja usia produktif kebanyakan yang menjadi sasaran para pengedar. Karena mereka aktif dan memiliki penghasilan untuk membeli narkoba. Apalagi mereka yang memiliki jam kerja panjang, karena sugesti, akhirnya menggunakan sabu untuk meningkatkan performa.

Padahal sifat stimulan dari narkoba hanya bersifat semu dan sementara, ketika efek sudah habis, tubuh justru menderita dan langsung ngedrop. Apalagi ketika sudah lama menggunakan, akhirnya tubuh mengalami kondisi “sakau” di mana rasa sakit dan cemas menggerogoti tubuh pengguna narkoba.

Jenis Narkoba

Secara umum, narkoba di dunia medis dikenal 3 jenis, yaitu:
1. Halusinogen, pecandu mengalami halusinasi baik visual /lihat maupun auditori/dengar, libido meningkat. Zat ini terdapat pada ganja, LSD dan mushroom
2. Depresan, menekan fungsi saraf, mengantuk dan ‘fly’, libido meningkat. Zat ini terdapat pada alkohol, obat jiwa sedative hipnotik dengan berbagai merk dagang turunan benzodiazepine seperti Xanax, dumolid, camplet dan opiad/morfin, kodein, pethidin serta putaw pada umumnya.
3. Stimulant, memacu tidak normalnya jaringan saraf, jadi aktif dan tidak mengantuk dan tidak merasa lelah, nafsu makan meningkat, tak berpengaruh terhadap libido. Zat ini terdapat pada amfetamin, ektasi, shabu, nikotin, kokain dan beberapa jenis sintetis terbaru sebagai stimulan.

Narkoba Di Kaltim Dalam Angka

Polda Kaltim mencatat setidaknya ada 1.501 kasus penyalahgunaan Narkoba selama tahun 2019. Dengan barang bukti diantaranya Ganja seberat 1,3 kg, Sabu 65,5 kg, Ecstasy 4.332 butir, Double L 170.313 butir, Obat-obatan yang tergolong daftar G sebanyak 19.940 butir dan Miras jenis CT sebanyak 2.000 Liter.

Untuk tersangka di tahun 2019 dengan jenis kelamin Laki-laki sebanyak 1.693 orang dan jenis kelamin perempuan sebanyak 123 orang. Dari catatan PN Balikpapan, selama 2019 dari 1.050 terdakwa tindak pidana, 60% kasusnya yaitu penyalah gunaan narkoba.

Komitmen Polda Kaltim Memerangi Narkoba

Awal tahun 2020 Polda Kaltim semakin gencar memerangi peredaran narkoba di Kaltim. Salah satunya ialah dengan “memagar” Kampung Narkoba di Balikpapan yaitu di daerah Gunung Bugis. 6 Januari 2020 jaringan yang berhasil diungkap dari wilayah Gunung Bugis menjalankan operasinya dengan sangat rapi. Lebih dari satu orang untuk bisa sukses menyembunyikan operasi mereka. Dalam setiap penggerebekan terkadang Polisi tidak menemukan hasil, karena mereka memiliki kode tersendiri untuk melindungi operasi mereka. “Doyok” adalah kode yang mereka gunakan jika ada seorang pembeli yang dicurigai sebagai polisi. “Arman” sebagai kode jika situasi mereka nilai aman.

Sabu 3,7 kg di Samarinda (Dok Humas Polda Kaltim)

Dari wilayah Samarinda, pada 7 Januari 2020 Ditresnarkoba Polda Kaltim dan Sat Resnarkoba Polresta Samarinda berhasil menggagalkan peredaran Sabu seberat 3,7 kg. Berdasarkan informasi sabu tersebut berasal dari Malaysia dan akan masuk ke Kota Samarinda. Tersangka kasus narkoba ini diamankan di wilayah Sempaja, Samarinda.

10 bungkus narkotika jenis sabu seberat 10.009gram (Dok Humas Polda Kaltim)

Masih dari Samarinda, kali ini Polda Kaltim berhasil mengungkap kasus peredaran narkoba jaringan Malaysia- Kalimantan- Sulawesi sebanyak 10 Kg Narkotika jenis sabu pada 17 Januari 2020. Kurir sabu ini ditangkap di Loa Bakung, Sungai Kunjang Samarinda.

Sementara dari wilayah Kutai Kartanegara, Polres Kukar berhasil ungkap 9 kasus narkoba selama awal tahun 2020. Barang bukti berupa  narkoba jenis sabu dengan berat keseluruhan mencapai 38,4 gram, kemudian 6 butir pil ekstasi.

Polresta Balikpapan Berhasil Gagalkan Peredaran 1,4 Kg Sabu (Dok Humas Polda Kaltim)

Polresta Balikpapan berhasil mengamankan 4 orang pemuda dan 1 orang perempuan atas kepemilikan narkotika jenis sabu seberat 1.362 gram (1,3 Kg), Selasa (21/01/2020). Area parkir rumah sakit Hermina dijadikan sebagai tempat bertransaksi.

Hidup Sehat Tanpa Narkoba

Jauhi narkoba dari kehidupan kita. Sekali mencoba, hanya ada dua pilihan yang kita hadapi, MATI atau MASUK PENJARA. Selalu berpikir positif jika sedang berhadapan dengan masalah bisa menjauhkan pikiran kita dari mengkonsumsi narkoba.

Meski kita aktif berkativitas, badan bisa fit dengan r utin berolahraga dan mengkonsumsi makanan dan minuman sehat serta istirahat yang cukup bisa membuat badan lebih fit dan bugar tanpa harus mengkonsumsi narkoba.

Memperbanyak ibadah serta bergaul dengan lingkungan positif juga bisa menjauhkan kita dari lingkaran setan narkoba. Sebagai orang tua, juga wajib terus mengawasi perkembangan serta pergaulan buah hatinya. Jangan sampai karena kesibukan orang tua, anak akhirnya terbengkalai dan kemudian terjebak dalam pergaulan yang didalamnya ada narkoba.

Peran aktif dari masyarakat juga perlu dalam memerangi peredaran narkoba. Jangan takut dan justru membiarkan adanya peredaran narkoba di lingkungan sekitar tempat tinggal. Segera laporkan ke ketua RT atau babinkamtibmas setempat jika menemukan hal yang mencurigai. Dengan adanya laporan dari masyarakat, Polisi bisa terbantu dalam perang terhadap narkoba. ***

*** Achmad Faizal, Pegiat Media Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *