ARTICLE SOBAT POLRI

Polri Siap Mendukung dan Mengawal Ketahanan Pangan

Selama masa pandemi penyebaran virus covid-19, seluruh dunia, termasuk Indonesia mulai dihantui akan keterbatasan stok pangan kedepannya. Indonesia sebenarnya berpotensi untuk bisa terus swasembada pangan tanpa harus melakukan impor makanan. Namun karena perkembangan jaman, banyak anak petani dan nelayan yang tidak melanjutkan kegiatan bertani dan berlayar memilih untuk bekerja seperti orang lain pada umumnya.

Akhirnya banyak lahan pertanian yang nganggur karena tidak digarap, bahkan sebagian akhirnya dijual untuk keperluan mendirikan bangunan lain. Bagaimana sikap pemerintah mengatasinya?

Langkah Proaktif Pemerintah Untuk Petani Dan Nelayan

Pemerintah menyiapkan empat skema yang dapat ditempuh untuk membantu para petani dan nelayan agar dapat tetap berproduksi dan menjaga ketersediaan bahan pokok selama masa pandemi. Pertama, melalui program jaring pengaman sosial untuk meringankan biaya konsumsi rumah tangga mereka.

Kedua, program subsidi bunga kredit yang saat ini sedang berjalan, melalui sejumlah program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Membina Keluarga Sejahtera (Mekaar), pembiayaan ultramikro (UMi), pegadaian, hingga pembiayaan dan bantuan permodalan dari beberapa kementerian.

Ketiga, pemberian stimulus sebagai modal kerja bagi para petani dan nelayan yang dapat disalurkan melalui perluasan program KUR bagi para penerima yang dinilai layak kredit. Saya telah meminta ke jajaran terkait agar prosedur dan aksesnya dipermudah, sederhana, dan tidak berbelit-belit.

Keempat, bantuan melalui instrumen nonfiskal dengan cara mengupayakan kelancaran rantai pasokan yang akan meningkatkan produktivitas para petani dan nelayan. Pemerintah berharap usaha pertanian dan perikanan ini bisa lebih baik melalui ketersediaan bibit, pupuk, dan alat-alat produksi.

Masyarakat mulai melakukan penghematan dan menanam bahan pangan lokal, gerakan beli hasil tanaman pangan petani lokal juga digencarkan.

3 Pilar Ketahanan Pangan

3 Pilar Ketahanan Pangan

Ketahanan Pangan Terbagi Menjadi 3 Pilar, yaitu:

  1. Ketersediaan (Availability)
  2. Keterjangkauan fisik dan ekonomi (Accessibility)
  3. Stabilitas pasokan dan harga (Stability)

Ketiga pilar ketahanan pangan tersebut harus dapat terwujud secara bersama-sama dan seimbang. Pilar ketersediaan dapat dipenuhi baik dari hasil produksi dalam negeri maupun luar negeri. Pilar keterjangkauan dapat dilihat dari keberadaan pangan yang secara fisik berada di dekat konsumen dengan kemampuan ekonomi konsumen untuk dapat membelinya (memperolehnya). Sedangkan pilar stabilitas dapat dilihat dari kontinyuitas pasokan dan stabilitas harga yang dapat diharapkan rumah tangga setiap saat dan di setiap tempat.

Langkah Polda Kaltim Mendukung Ketahanan Pangan

Dalam menjaga ketersediaan bahan pangan di wilayah hukum Kalimantan Timur, Polda Kaltim rutin mengadakan inspeksi ke gudang pangan dan pasar. Hal ini guna memantau ketersediaan stok bahan pokok serta memantau kestabilan harga agar tetap bisa terjangkau oleh masyarakat yang sedang kesusahan di masa pandemi ini.

Inspeksi Ke Pasar Tradisional Dalam Rangka Mengecek Ketersediaan Dan Kestabilan Harga Stok Bahan Pangan (Dok Humas Polda Kaltim)

Selain itu, Polda Kaltim melalui Polresta dan Polres Kabupaten dan Kota yang ada memberi contoh masyarakat untuk mulai menanam sendiri sayur mayur melalui teknik hidroponik dan membudidayakan ikan seperti lele.

Polresta Balikpapan sebagai penggiat Urban Farming mencontohkan kegiatan yang sudah dilakukan dan terbukti membuahkan hasil, yakni budidaya kangkung dan pembesaran ikan lele dalam ember (budikdamber).

Kapolresta Balikpapan mencontohkan budikdamber (Dok Humas Polda Kaltim)

Kegiatan program Polresta Balikpapan dalam rangka peduli ketahanan meliputi sayuran yakni sayur kangkung dan budidaya ikan lele dengan menggunakan media ember plastik, hal tersebut dilaksanakan selama masa pandemi Covid-19 dan hasilnya akan disumbangkan ke dapur umum Polresta Balikpapan dan akan disumbangkan kepada masyarakat terdampak Covid-19 kota Balikpapan.

Kegiatan ini juga diharapkan bisa ditiru oleh masyarakat Kota Balikpapan sembari mengisi waktu luang pada masa pandemi di rumah. Dalam jangka waktu 10 hari sayuran kangkung tersebut sudah dapat dipanen sedangkan ikan lele dapat dipanen dalam jangka waktu sekitar 3 bulan. Kedepannya instansi pemerintah akan membantu dalam pembudidayaan kegiatan ini termasuk bank BI, Dinas Pertanian dan Perikanan.

Dok Humas Polda Kaltim

Program budikdamber juga dilaksanakan di Polresta Samarinda. Hasil dari program ini juga akan disumbangkan kepada masyarakat Kota Samarinda yang sedang kesusahan selama masa pandemi ini.

Permasalahan Pangan Selama Pandemi

Beberapa daerah tentunya memiliki kebijaksanaan pembatasan sosial selama pandemi berlangsung. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap kelangsungan ekonomi. Pasar yang menjadi pusat pergerakan bahan pangan, tentunya akan terpengaruh dengan adanya kebijakan pembatasan sosial.

Selama pandemi juga terjadi PHK serta dirumahkannya sebagian karyawan tanpa menerima gaji. Hal ini tentunya akan berpengaruh dengan menurunnya daya beli terhadap bahan pokok. Permintaan pasar yang menurun dapat berimbas pada komoditas pertanian yang semakin tertekan.

Berbagai aktifitas sosial masyarakat yang berdampak ekonomi terhenti seperti hajatan, kumpul-kumpul, serta silaturahmi yang biasanya hampir setiap akhir pekan dilakukan oleh masyarakat dan pada umumnya membutuhkan logistik yang cukup besar dalam penyelenggaraannya. Terlebih pada bulan Ramadan, hampir seluruh masjid di Indonesia yang biasanya mengadakan buka puasa bersama saat ini tidak dapat dilakukan, sehingga permintaan akan bahan makanan semakin menurun.

Terhentinya bisnis perhotelan, restoran, kantin sekolah, dan kantin perkantoran selama penerapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) virus corona, tentunya juga berdampak dengan menurunnya permintaan terhadap kebutuhan bahan pokok.

Pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pertanian perlu melakukan pemetaan ulang stok-stok komoditas pada masing-masing daerah guna memetakan arah pendistribusian pangan secara nasional. Optimalisasi fungsi kelompok-kelompok tani dan koperasi juga perlu dilakukan guna menyeimbangkan kebijakan yang dari pemerintah.  Pengawasan harga-harga pangan mulai dari level produsen (petani) sampai di tangan konsumen sehingga produksi pangan tetap berjalan dengan optimal meskipun dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini. 

Kunci Keberhasilan Ketahanan Pangan Selama Pandemi

Petani dan Nelayan menjadi kunci dari keberhasilan Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan selama pandemi ini berlangusung. Mereka harus tetap sehat sebingga bisa bekerja secara maksimal. Pemerintah harus mengambil langkah cepat dalam mencegah terjadinya krisis pangan. Dimulai dari menyejahterakan petani dan nelayan melalui bantuan dan fasilitas seperti misalnya bantuan relaksasi kredit kepada para petani miskin. Para petani juga sebaiknya dikenalkan dengan teknologi untuk membantu mereka dalam mendistribusikan serta menjaga kestabilan harga produk pangan dimasa pandemi seperti ini.

Masyarakat juga dapat ikut andil dalam menjaga ketahanan pangan untuk menghindari adanya krisis pangan. Masyarakat memiliki peluang untuk membangun kedaulatan dan kemandirian pangan. Dalam masa pandemi seperti ini, masyarakat cenderung menjadi lebih kreatif dan bisa berkreasi untuk mengakali situasi yang ada. Termasuk halnya dalam menjaga akses terhadap pangan. Masyarakat diharapkan memiliki kesadaran untuk melakukan penanaman mandiri minimal untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. ***

*** Achmad Faizal, Pegiat Media Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *